Puisi 8 - Hujan Rintik, Maret 2026

 Hujan Rintik, Maret 2026

From : Suyre

Maret… 2026

Kala hujan turun rintik-rintik,

disapu cahaya surya yang hangat namun asing.

Saat hati kita pernah menjadi satu,

namun raga enggan berpihak pada takdir yang sama.

Ah, Maret 2026.....

Anomali yang diam-diam melukai batinku.


Kita ibarat dua anak burung migrasi,

bertemu di persinggahan yang fana,

lalu terbang lagi.....

Mengikuti arah langit yang tak pernah kita pilih sendiri.


Kita seperti dua anak kecil yang tak saling mengenal,

dipertemukan hujan,

menari di bawah langit kelabu

seolah dunia hanya milik kita berdua.

Namun selepas itu,

kita pulang ke rumah masing-masing

Dan kembali menjadi asing,

membawa kenangan yang terlalu singkat untuk dilupakan.


Kita adalah hujan di Maret itu.....

Aku dan engkau,

seperti air yang jatuh dan tanah yang menanti.

Kita menyatu dalam rintik,

namun matahari yang tergesa

Mencuri waktu kita tanpa permisi.


Betapa singkat kisah ini,

namun begitu megah saat kita membangunnya......

Seperti istana dari embun

Yang indah, tapi tak pernah abadi.


Hai engkau,

Burung migrasi itu…

Hai engkau,

Anak kecil asing yang pernah menari bersamaku…

Hai engkau,

Rintik hujan yang sempat singgah di jiwaku…

Apakah cintamu sedalam ini padaku?

Akankah semesta mempertemukan kita lagi?

Ataukah hanya aku yang tenggelam,

Sementara kau telah pandai berenang meninggalkan kenangan?


Apakah aku satu-satunya

Yang kehilangan arah hidup,

Karena seluruh ruang jiwa

telah kau penuhi tanpa sisa?


Wahai pemilik hati yang tak lagi kumiliki,

jika takdir tak mempertemukan kita kembali,

ajarkan aku cara melupakanmu.....

Cara hidup tanpa bayangmu,

cara menganggap bahwa kita

tak pernah saling menemukan.


Namun diam-diam aku masih berharap…

Kita akan bertemu lagi.....

bukan sekadar singgah,

melainkan menetap.

Menjadi dua burung yang terbang berpasangan,

bukan lagi terpisah oleh arah.

Menjadi dua jiwa asing

yang akhirnya saling pulang.

Atau seperti hujan dan tanah

yang tak lagi dipisahkan cahaya,

melainkan menyatu

untuk selamanya.

Komentar