KAMUS ORANG DEWASA ๐Ÿง”

 “Terserah” yang Paling Menghakimi


“Terserah” itu bukan memberi kebebasan.

Itu jebakan.

Kita tanya:

“Makan apa?”

Jawabannya: “Terserah.”

Kita milih.

Dia diem.

Mukanya berubah dikit.

Terus bilang,

“Ya udah sih…”

Kalimat “ya udah sih” itu bukan pasrah.

Itu kekecewaan yang ditahan demi sopan santun.

----------


“Nanti” yang Lebih Fleksibel dari Karet Gelang


“Nanti” itu kata paling multitafsir.

“Nanti ya” bisa berarti:

habis ini

besok

minggu depan

atau nggak sama sekali, tapi nggak enak nolaknya

Kalau orang dewasa niat, dia pakai jam.

Kalau pakai “nanti”,

berarti jangan berharap sambil berdiri.

----------


“Santai Aja” yang Selalu Datang di Saat Salah


Kata “santai” paling sering muncul saat:

semua orang panik

deadline tinggal hitungan jam

masalah belum jelas

Dan anehnya,

yang bilang “santai” hampir selalu:

bukan penanggung jawab

bukan yang dimarahi

bukan yang lembur

Santai buat dia.

Kita? Deg-degan sambil senyum.

----------


“Aku Pikir Udah Kamu Kerjain”


Kalimat ini terdengar netral.

Padahal isinya tuduhan lembut.

“Aku pikir…”

artinya: aku nggak ngecek.

“Udah kamu kerjain”

artinya: sekarang tanggung jawabnya kamu.

Kalimat ini spesial karena:

nggak marah,

tapi bikin kita langsung mikir,

“Lah salahku ta?”

-----------


“InsyaAllah” yang Lebih Aman dari Janji


Secara agama, ini doa.

Secara praktik, ini sabuk pengaman sosial.

“Besok datang ya?”

“InsyaAllah.”

Nada datar.

Tanpa antusias.

Tanpa kepastian.

Artinya sederhana:

jangan terlalu berharap, tapi jangan marah juga.

----------


“Aku Lagi Banyak Pikiran”


Kalimat ini bukan cerita.

Ini pagar.

Begitu diucapkan,

pertanyaan lanjutan otomatis gugur.

Karena semua orang dewasa tahu:

kalau dipaksa lanjut,

yang ada malah ribut.

----------


“Bebas Kok” yang Punya Jawaban Benar


“Kamu maunya apa?”

“Bebas kok.”

Ini bukan kebebasan.

Ini ujian kepekaan.

Ada jawaban yang benar.

Ada jawaban yang salah.

Dan kita nggak dikasih kisi-kisi.

Kata-Kata Ini Nggak Jahat, Cuma Licin

Kata-kata orang dewasa itu lahir dari kelelahan.

Bukan niat nipu.

Tapi niat menghindari drama tambahan.

Karena hidup sudah ribet.

----------


"Ngomong terlalu jujur bikin ribet dua kali"


Kesimpulan yang Agak Nyeletuk

Menjadi dewasa itu bukan soal berkata jujur sepenuhnya.

Tapi soal berkata cukup aman supaya hari ini nggak makin kacau.

Dan tanpa sadar,

kita semua sekarang pakai kamus yang sama.

Makanya kalau dengar kata-kata itu,

kita cuma angguk,

tarik napas,

terus bilang dalam hati:

“Oh… yaudah. Dewasa.”

----------


Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seni Digital dan Kanvas Interaktif: Tempat Seru Mengekspresikan Ide!

Permainan Minesweeper